Ditulis pada Mei 25,
2008 oleh bangnawi

Kehidupan ini seperti
air yang mengalir. Mengalir sampai titik batas akhir dia mengalir. Sebagian
orang hanya sekedar mengikuti arus kehidupan ini tanpa tahu untuk apa
semestinya dia dilahirkan di muka bumi ini. Mereka hanya mengalir, mengalir dan
mengalir. Sampai ketika mereka sampai pada muara kehidupan masing-masing, aliran
itupun berhenti seiring dengan hembusan nafas terakhir tanpa dia mengerti
kenapa aku diciptakan.

Sebagian yang lain
mulai bertanya-tanya. Seiring dengan berkembangnya organ berpikir, dia pun
bertanya-tanya, kenapa aku berada di sini mengalir bersama yang lainnya. Pasti
ada hikmah sehingga Tuhan menciptakan dia bersama-sama orang yang mengalir
tadi. Suatu proses berpikir yang menunjukkan kelebihan seorang manusia
dibandingkan ciptaan Allah yang lain.

Proses pencarian pun
dimulailah. Dengan cara yang macam-macam sesuai perkiraannya bahwa ini adalah
cara yang paling tepat untuk mencari jati dirinya sebagai manusia.

Berhasilkah mereka?
Yang jelas, sebagian mereka telah berhasil menemukan jati dirinya sebagai
manusia. Jati diri hakiki yang memang karena itulah dia ada. Jati diri yang
mereka temukan ketika mereka mencarinya dengan mengembalikannya kepada Dzat
yang telah menciptakan mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka dapatkan dari
kalam Dzat Yang Maha Pencipta ini, Dia berkata:

“Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja?” (Al Qiyamah 36)

Begitu juga mereka
mendapatkan Dzat Yang Menciptakan Mereka ini berkata :

“Apakah
kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian ini sia-sia belaka dan kalian
mengira bahwa kalian tidak kembali kepada Kami?” (Al Mu’minun 115)

Hmm, benar ya Rabb.
Tidak mungkin Engkau menciptakan kami dalam keadaan sia-sia. Tidak mungkin
Engkau menciptakan kami begitu saja tanpa adanya tujuan yang sangat mulia.

Apakah tujuan
tersebut?

Kembali kita merujuk
kepada kalamnya Rabb kita :

“Dan
tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali dengan tujuan agar mereka
beribadah kepadaku saja” (Adz Dzariyat 56).

Ooo, ternyata itu
tho? Ternyata sederhana sekali ya jawabannya. Ibadah. Cape-cape nyari, ternyata
jawabannya sudah ada. Gak pake’ banyak teori lagi. Dari sumber yang sangat
jelas. Tidak diragukan kebenarannya. Karena ini adalah perkataan Dzat yang
telah menciptakan kita. Yang sudah pasti kebenarannya. Yang sudah pasti bahwa
Dia lebih tahu tentang makhluk ciptaannya.

Alhamdulillah,
ternyata ketemu jawabannya. Kan tiap hari kita juga sudah ibadah. Minimal kan,
sholat 5 waktu gak lupa. Ramadhan udah mesti puasa. Ini juga lagi nabung buat
bisa naek haji. Berarti apa yang kita jalankan sudah sesuai dengan tujuan kita
diciptakan.

O ya?

Demikiankah?

Coba perhatikan lagi
deh ayatnya.

“Tidaklah
aku menciptakan jin dan manusia kecuali dengan tujuan agar mereka beribadah
kepadaku saja” (Adz Dzariyat 56).

Ibadah itu tujuan
hidup. Bukan sampingan. Ibadah itu kebutuhan primer. Bukan sekunder. Bahkan
lebih primer dibandingkan dibandingkan pangan, sandang, papan. Allah tidak
menyebutkan bahwa tujuan Dia menciptakan jin dan manusia adalah agar mereka
makan, berpakaian, atau pun bisa bertempat tinggal. Cuma satu tujuan yang Dia
sebutkan. Ibadah.

Begitu juga Allah
Ta’ala tidaklah mengutus para Rasulnya kepada umatnya masing-masing, kecuali
dengan seruan agar umat mereka beribadah kepada Allah semata. Kecuali
mengajarkan bagaimana agar umat bisa beribadah dengan ibadah yang benar kepada
Allah. Nabi Nuh ‘alaihi salam berkata kepada kaumnya:

“Beribadahlah
kalian kepada Allah saja. Tidak ada yang patut diibadahi selain Allah”(Al A’raf
59)

Begitu juga halnya
dengan Nabi Hud, Sholeh, Syu’aib, dan yang lainnya ‘alaihim assalam kepada kaum
mereka masing-masing.

Allah Ta’ala
berfirman:

"Dan
sungguh telah kami utus kepada setiap umat ini seorang rasul, (mereka
menyerukan kepada kaumnya) “Beribadahlah kalian kepada Allah, dan jauhilah
thogut.”(An Nahl 36)

Dan Allah Ta’ala
berfirman:

“Dan
tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelum engkau kecuali Kami wahyukan
kepadanya bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali diriKu maka
beribadahlah kepadaku” (Al Anbiya’ 25)

Perhatikanlah
ayat-ayat di atas!

Allah telah
menjelaskan bahwa dia tidaklah menciptakan manusia ini dalam keadaan sia-sia.
Allah telah menjelaskan tujuan penciptaan jin dan manusia ini untuk agar mereka
beribadah kepada Allah. Allah juga menjelaskan bahwasanya Dia mengutus rasul-rasulNya
untuk mengajari umatnya bagaimana mereka bisa beribadah dengan baik dan benar.
Mereka mengajari umatnya bagaimana merealisasikan tujuan asal dari penciptaan
mereka.

Sekarang, kita tanya
pada diri kita sendiri, sadarkah diriku tentang kenapa aku diciptakan Allah di
muka bumi ini?

Kenapa Allah ciptakan
aku sebagai bagian dari anak manusia?

Sudahkah diriku
mewujudkan dan merealisasikan tujuan ini?

Tidak! Tidak!
Aku tidak bertanya apakah aku sudah beribadah atau belum?

Semua orang akan
menjawab dia telah beribadah. Tapi aku bertanya apakah aku sudah menjadikan
ibadah tersebut benar-benar sebagai tujuan hidupku?

Sudahkah
aku menghitung setiap waktu, setiap menit dan detik, setiap nafas yang
berhembus, setiap detak jantung, dan setiap denyut nadiku sebagai suatu ibadah
kepada Allah Ta’ala?

La haula walaa
quwwata illa billah.

sumber
:
http://oaseilmu.wordpress.com/