Hikmah Pengharaman Alkohol : Sedikit atau Banyak Tetap Berbahaya

Religion No Comments »

Dr. Sath-han
Ahmad (United State of America)


Sudah menjadi
sesuatu yang diketahui umum, yaitu adanya dampak yang sangat kentara dari
alkohol terhadap otak dan kerja hati (liver), kecuali apabila hal itu digunakan
untuk tujuan-tujuan sosial atau untuk medis. Ada sebuah pemahaman yang
menyatakan bahwa penggunaan alkohol dalam jumlah kecil
tidak berdampak pada toksin atau mempengaruhi anggota tubuh lainnya sehingga
tidak boleh melarang penggunaan alkohol
.

Oleh karena
itu, aku melaksanakan penelitian ini untuk memastikan ada-tidaknya dampak yang
signifikan terhadap jantung bagi manusia. Penelitian juga aku lakukan terhadap
zat aditif "khamar" bagi responden. Tes percobaan adalah 6 jenis
alkohol dengan kandungan 43% saya berikan kepada orang biasa yang sehat yang
berusia 23 - 30 tahun selama 2 jam, bagi kelompok pertama, dan 1 jam bagi kelompok
kedua. Dan ternyata, kerja jantung jadi berdebar kencang.

Terhadap
kelompok pertama, setelah berselang 60 menit (1 jam), kandungan al-kohol
menjadi + 74 mcm/ml ada penambahan selama pemompaan darah 90 - 96 mili kedua.
Dan penambahan waktu kepastian 44 - 52, bertambah persentase keduanya dari
0,299 sampai 323. Dan mulai menurun setelah 2 jam pertama padahal jumlah
alkohol dalam darah bertambah sampai 111 mg dengan peningkatan yang sangat
cepat/drastis (pada kelompok kedua) dan terjadi dis-fungsi organ perut bagian
kiri setelah 30 menit. Hal ini terjadi ketika keadaan alkohol dalam darah
mencapai 50 mg/100ml.

Adapun pada
kelompok ketiga. Kami melakukan studi komparasional terhadap 5 orang yang aku
beri saccharine dan terjadi penurunan pada tiga hal tersebut pada setiap orang.

Oleh karena
itu, penggunaan alkohol dengan dosis "kecil/atau tidak seberapa" akan
menyebabkan terjadinya disfungsi organ secara berkala; dan pada orang-orang
biasa bila tidak berkala. Dan untuk menganalisis kerja jantung pada pada saat
diberi zat aditif tersebut di atas, maka 3 orang yang sudah kecanduan khamar,
kami melakukan studi komparasinya dengan kelompok orang-orang biasa yang sehat.
Berdasarkan hipotesis : Ada perbedaan yang jelas pada keadaan dan gejala-gejala
jantung, maka diketahui bahwasanya ditemukan keadaan yang sangat jelas pada
setiap responden tentang disfungsi organ perut bagian kiri, baik besar atau pun
kecil. Dan disfungsi ini lebih jelas lagi pada orang yang sedang sakit yang
relatif lebih lama pada lama-tidaknya kerja jantung. Pada 12 pasien tidak
mengetahui penyebab pembengkakan jantung, sebab ukuran/volume organ perut
bagian kiri dan volume darah dan terbuang berbeda lebih jelas dibandingkan pada
responden orang biasa.

Dan pada 11
orang yang menderita sakit tambahan, tidak mengetahui pembengkakan jantung
dengan perbedaan yang jelas, yaitu adanya penambahan atau pengurangan volume
pompa darah.

Pada 18 pasien,
mengetahui adanya pembengkakan jantung tanpa diserta gejala, terjadi penurunan
atau dis-fungsi kerja pompa jantung secara jelas dan disertai penurunan volume
dan darah yang terbuang.

Berdasarkan hal
tersebut, penggunaan alkohol (sebagai zat aditif) adalah kritis secara
terus-menerus terhadap jantung. Hal ini diawali dengan berdebarnya detak
jantung dan sampai pada tahapan berikutnya, sakit; penurunan stamina tubuh pada
kerja pompa darah, kemudian pembengkakan jantung, munculnya dis-fungsi jantung.
Dan informasi yang diperoleh dari percobaan terhadap sejumlah anjing menguatkan
data kami ini, dimana kami telah memberi makan 7 anjing tersebut secara paralel
5 kebutuhan anjing tersebut akan energi panas melalui alkohol selama 18 bulan.
Maka, terjadilah dis-fungsi/penurunan yang sangat jelas pada jumlah yang
terbuang dari organ perut bagian kiri, dan pada kekuatan tulang biseps. Adapun
pembengkakan pada organ perut dan inflamasi ataupun perubahan pada keduanya,
maka hal itu tidak terjadi, dan terjadinya penurunan potassium dengan adanya
catatan pada biseps jantung anjing (64, dimana sebelumnya 72).

Berdasarkan
hal tersebut, pengunaan alkohol dengan dosis apapun dan dalam kondisi apapun
bukan hanya mempengaruhi aqidah saja, bahkan berdampak kepada jantung dengan
dampak yang sangat berbahaya.

Sesungguhnya
hukum pengharaman di dalam Islam adalah sesuatu yang sudah dogmatis dan
terbatas yang tidak ada porsi sedikitpun untuk meragukannya atau
mengingkarinya. Sikap Islam terhadap penggunaannya minuman beralkohol dalam
dosis kecil adalah sangat jelas yang tidak perlu penjelasan tambahan,
sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah. Adapun orang-orang kafir
dan kalangan pendosa, mereka mengikuti kaidah-kaidah mereka dari aspek
kemanusiaan dan medik untuk melegalkan penggunaan alkohol dalam dosis rendah…
Maka mereka akhirnya menyangka bahwa dosis rendah tidak akan berdampak secara
signifikan, tidak jadi haram, dan tidak membahayakan tubuh. Dari hal ini pun
akhirnya dimungkinkan penggunaan alkohol dalam dosis sedang untuk tujuan-tujuan
medik.

Oleh karena
itu, dipandang perlu bahwa kita dalam setiap moment selalu mengedepankan ilmu
dan dalil untuk memuaskan mereka-mereka yang tidak yakin dengan asas komitmen
dalam kita bertahkim dengan hukum ilahi.

 

Kirim friendster blog via email

Weblogs No Comments »

Hebat euy ada fasilitas kirim friendster blog via email……

 

So bisa lebih mobile mengupdate blog gw :)

 

Regards,

 

Firmansyah

Kenapa Aku Hidup?

Religion No Comments »

Ditulis pada Mei 25,
2008 oleh bangnawi

Kehidupan ini seperti
air yang mengalir. Mengalir sampai titik batas akhir dia mengalir. Sebagian
orang hanya sekedar mengikuti arus kehidupan ini tanpa tahu untuk apa
semestinya dia dilahirkan di muka bumi ini. Mereka hanya mengalir, mengalir dan
mengalir. Sampai ketika mereka sampai pada muara kehidupan masing-masing, aliran
itupun berhenti seiring dengan hembusan nafas terakhir tanpa dia mengerti
kenapa aku diciptakan.

Sebagian yang lain
mulai bertanya-tanya. Seiring dengan berkembangnya organ berpikir, dia pun
bertanya-tanya, kenapa aku berada di sini mengalir bersama yang lainnya. Pasti
ada hikmah sehingga Tuhan menciptakan dia bersama-sama orang yang mengalir
tadi. Suatu proses berpikir yang menunjukkan kelebihan seorang manusia
dibandingkan ciptaan Allah yang lain.

Proses pencarian pun
dimulailah. Dengan cara yang macam-macam sesuai perkiraannya bahwa ini adalah
cara yang paling tepat untuk mencari jati dirinya sebagai manusia.

Berhasilkah mereka?
Yang jelas, sebagian mereka telah berhasil menemukan jati dirinya sebagai
manusia. Jati diri hakiki yang memang karena itulah dia ada. Jati diri yang
mereka temukan ketika mereka mencarinya dengan mengembalikannya kepada Dzat
yang telah menciptakan mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka dapatkan dari
kalam Dzat Yang Maha Pencipta ini, Dia berkata:

“Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja?” (Al Qiyamah 36)

Begitu juga mereka
mendapatkan Dzat Yang Menciptakan Mereka ini berkata :

“Apakah
kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian ini sia-sia belaka dan kalian
mengira bahwa kalian tidak kembali kepada Kami?” (Al Mu’minun 115)

Hmm, benar ya Rabb.
Tidak mungkin Engkau menciptakan kami dalam keadaan sia-sia. Tidak mungkin
Engkau menciptakan kami begitu saja tanpa adanya tujuan yang sangat mulia.

Apakah tujuan
tersebut?

Kembali kita merujuk
kepada kalamnya Rabb kita :

“Dan
tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali dengan tujuan agar mereka
beribadah kepadaku saja” (Adz Dzariyat 56).

Ooo, ternyata itu
tho? Ternyata sederhana sekali ya jawabannya. Ibadah. Cape-cape nyari, ternyata
jawabannya sudah ada. Gak pake’ banyak teori lagi. Dari sumber yang sangat
jelas. Tidak diragukan kebenarannya. Karena ini adalah perkataan Dzat yang
telah menciptakan kita. Yang sudah pasti kebenarannya. Yang sudah pasti bahwa
Dia lebih tahu tentang makhluk ciptaannya.

Alhamdulillah,
ternyata ketemu jawabannya. Kan tiap hari kita juga sudah ibadah. Minimal kan,
sholat 5 waktu gak lupa. Ramadhan udah mesti puasa. Ini juga lagi nabung buat
bisa naek haji. Berarti apa yang kita jalankan sudah sesuai dengan tujuan kita
diciptakan.

O ya?

Demikiankah?

Coba perhatikan lagi
deh ayatnya.

“Tidaklah
aku menciptakan jin dan manusia kecuali dengan tujuan agar mereka beribadah
kepadaku saja” (Adz Dzariyat 56).

Ibadah itu tujuan
hidup. Bukan sampingan. Ibadah itu kebutuhan primer. Bukan sekunder. Bahkan
lebih primer dibandingkan dibandingkan pangan, sandang, papan. Allah tidak
menyebutkan bahwa tujuan Dia menciptakan jin dan manusia adalah agar mereka
makan, berpakaian, atau pun bisa bertempat tinggal. Cuma satu tujuan yang Dia
sebutkan. Ibadah.

Begitu juga Allah
Ta’ala tidaklah mengutus para Rasulnya kepada umatnya masing-masing, kecuali
dengan seruan agar umat mereka beribadah kepada Allah semata. Kecuali
mengajarkan bagaimana agar umat bisa beribadah dengan ibadah yang benar kepada
Allah. Nabi Nuh ‘alaihi salam berkata kepada kaumnya:

“Beribadahlah
kalian kepada Allah saja. Tidak ada yang patut diibadahi selain Allah”(Al A’raf
59)

Begitu juga halnya
dengan Nabi Hud, Sholeh, Syu’aib, dan yang lainnya ‘alaihim assalam kepada kaum
mereka masing-masing.

Allah Ta’ala
berfirman:

"Dan
sungguh telah kami utus kepada setiap umat ini seorang rasul, (mereka
menyerukan kepada kaumnya) “Beribadahlah kalian kepada Allah, dan jauhilah
thogut.”(An Nahl 36)

Dan Allah Ta’ala
berfirman:

“Dan
tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelum engkau kecuali Kami wahyukan
kepadanya bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali diriKu maka
beribadahlah kepadaku” (Al Anbiya’ 25)

Perhatikanlah
ayat-ayat di atas!

Allah telah
menjelaskan bahwa dia tidaklah menciptakan manusia ini dalam keadaan sia-sia.
Allah telah menjelaskan tujuan penciptaan jin dan manusia ini untuk agar mereka
beribadah kepada Allah. Allah juga menjelaskan bahwasanya Dia mengutus rasul-rasulNya
untuk mengajari umatnya bagaimana mereka bisa beribadah dengan baik dan benar.
Mereka mengajari umatnya bagaimana merealisasikan tujuan asal dari penciptaan
mereka.

Sekarang, kita tanya
pada diri kita sendiri, sadarkah diriku tentang kenapa aku diciptakan Allah di
muka bumi ini?

Kenapa Allah ciptakan
aku sebagai bagian dari anak manusia?

Sudahkah diriku
mewujudkan dan merealisasikan tujuan ini?

Tidak! Tidak!
Aku tidak bertanya apakah aku sudah beribadah atau belum?

Semua orang akan
menjawab dia telah beribadah. Tapi aku bertanya apakah aku sudah menjadikan
ibadah tersebut benar-benar sebagai tujuan hidupku?

Sudahkah
aku menghitung setiap waktu, setiap menit dan detik, setiap nafas yang
berhembus, setiap detak jantung, dan setiap denyut nadiku sebagai suatu ibadah
kepada Allah Ta’ala?

La haula walaa
quwwata illa billah.

sumber
:
http://oaseilmu.wordpress.com/

Hiburan yang Melalaikan

Religion No Comments »

Oleh: Asril MT
 
"Nyanyian
dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati,
bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya,
sesungguhnya Alquran dan dzikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air
menumbuhkan rerumputan." (HR Ad-Dailami)

Di era globalisasi
kini, arus informasi mengalir sedemikian derasnya seakan tak terbendung.
Berbagai jenis hiburan pun ada. Televisi dan radio menayangkan setiap saat.
Semuanya diserahkan kepada kita untuk memilih dan memilah. Sayangnya tak semua
orang bisa melaksanakannya. Sebagian besar anak-anak dan orang tua –terutama
kaum ibu– menghabiskan waktu di depan layar kaca. Sementara waktu untuk
belajar dan menambah keimanan jauh lebih sedikit.

Islam tidak melarang
orang untuk bersenang-senang asalkan sesuai porsinya, memberikan nilai tambah
dan manfaat. Apabila hiburan yang melalaikan terlalu sering kita nikmati maka
tidaklah mengherankan jika kemunafikan tumbuh subur. Sangat sayang bila waktu
dibuang-buang hanya untuk hiburan yang melalaikan.

Allah SWT berfirman:
"Demi
masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman
dan beramal shaleh. Dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling
menasihati dalam kesabaran."

(QS
Al-Ashr: 1-3).

Dalam ayat yang lain
Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam
shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
yang tiada berguna." (QS Al-Mu’minuun: 1-3).

Marilah kita
introspeksi, apakah kita rela membuat anak kita bahkan diri kita menjadikan
tontonan sebagai tuntunan. Sementara tuntunan sejati yang membawa keselamatan
yakni Al-Qur’an dan Assunnah kita jadikan tontonan dan ditinggalkan.

"Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya." (QS Al-Isra’: 36).
 

Beramallah Semaksimal Yang Kamu Mampu…

Religion No Comments »
Beramallah Semaksimal Yang Kamu
Mampu…

Apabila kita ingin memiliki hati yang
bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut.
Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita
biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk.
Rasulullah saw bersabda,

"…Beramallah
semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan,
dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu
(terus-menerus) walaupun sedikit." (H.R. Bukhari)

Jangan anggap enteng amal yang telah kita kerjakan dengan tulus dan
hati yang murni, dengan tujuan hanya ridha Allah semata. Sekecil apapun amal
yang telah dipersembahkan kepada Allah dan manusia, semuanya adalah kebaikan
yang diangkat kepada Allah dan menjadi kemuliaan diri kita disisi Allah
SWT.

Kadang-kadang amal kebaikan yang kecil, yang kita anggap enteng,
akan memberi kehormatan besar dan memberi keselamatan bagi kebaikan manusia.
Kadang-kadang pula amal yang kita banggakan dan sangat banyak, apalagi menjadi
sebutan orang-orang, bisa jadi tidak memberi manfaat, dan kadang-kadang pula
menjadi fitnah.

Ada satu kisah menarik yang perlu kita perhatikan, karena
didalamnya ada pelajaran yang berharga yang harus kita renungkan. Kisah ini
adalah kisahnya Ummu Mahjan.

Ummu Mahjan adalah seorang wanita yang tak
pernah mengeluh. Beliau seorang wanita yang berkulit hitam, dipanggil dengan
nama Ummu Mahjan telah disebutkan didalam Ash-Shahih tanpa menyebutkan nama
aslinya, beliau berdomisili di Madinah.(lihat Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat
8/414)

Beliau adalah seorang wanita miskin yang memiliki tubuh yang
lemah. Beliau menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap akidahnya dan
masyarakat islam, lantas apa yang bisa dia lakukan padahal beliau adalah seorang
wanita yang tua dan lemah? Akan tetapi beliau sedikitpun tidak bimbang dan ragu,
dan tidak menyisakan sedikitpun rasa putus asa dalam hatinya. Dan rasa putus asa
adalah jalan yang tidak dikenal dihati orang-orang yang beriman.

Beliau
bahkan tak mau tertinggal dalam membela Islam. Memang, ia tak bisa berbuat
seperti layaknya para shohabiyah yang lain. Ia tidak punya harta untuk
diinfakkan. Ia-pun tak memiliki tenaga untuk pergi ke medan jihad. Tapi ia tak
pernah mau ketinggalan dalam beramal. Ia ingin dirinya dikenang oleh Rasulullah.
Maka dengan segenap semangat dan sisa tenaga yang ia miliki. Ia melakukan
pekerjaan itu. Suatu pekerjaan yang tidak dilirik oleh orang lain, yaitu membersihkan mesjid Rasulullah. Tiap
hari beliau membersihkannya, sampai akhir hayatnya

Dan kegigihan Ummu
Mahjan pun memperoleh hasil. Malam itu seusai shalat Isya, Ummu Mahjan ra.
dipanggil menghadap Sang Maha Pencipta dengan penuh keridhaan dan diridhai.
Rasulullah merasa bersedih dan kehilangan dengan kematiannya. Wanita miskin itu
begitu lekat dalam ingatan beliau. Setiap hari wanita beruban itu bekerja keras
membersihkan mesjid. Sehingga rumah Allah itu benar-benar menjadi tempat yang
nyaman untuk beribadah dan bermusyawarah.

Wanita tua berkulit hitam itu
memang bukan seorang pahlawan, tetapi sejarah telah mengukir namanya dengan
tinta emas, meski nama aslinya tidak pernah dikenal orang. Ummu Mahjan adalah
contoh dari orang yang mampu berbuat seadanya tetapi memperoleh kemuliaan dari
ketekunannya dengan apa yang ia lakukan. Ia isi kehidupannya -hari demi hari
dengan penuh keberkahan- sampai akhir hayatnya dengan sebuah pekerjaan yang
sederhana. Rasulullah SAW bersabda,

"Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu
(terus-menerus) walaupun sedikit." (H.R. Bukhari)

Jadi, apa yang harus kita tunggu.. ayo, beramallah…
"beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena
Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan
"

Nabi SAW
bersabda, "Jangan meremehkan kebaikan yang
sedikit, walaupun hanya dengan senyuman di wajah ketika engkau bertemu dengan
saudaramu." (HR. Muslim)

Dan di riwayat yang lain
Rasulullah SAW bersabda,
"Bagi setiap
jiwa, pada setiap hari ketika matahari terbit, ada keharusan untuk bersedekah
bagi jiwa itu." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, darimana aku
bersedekah sedang aku tidak punya harta?" Rasulullah menjelaskan, "Sesungguhnya
termasuk dari dalam pintu-pintu sedekah adalah mengucapkan takbir, tasbih,
membaca alhamdulillah, mengucapkan laa ilaaha illallaah, beristighfar kepada
Allah, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, menjauhkan duri
dan bebatuan dari jalan orang-orang, menuntun orang buta, mengajari serta
memahami orang yang tuli serta bisu hingga mengerti, menunjukkan pencari suatu
kebutuhan yang engkau tahu dimana tempat apa yang dibutuhkannya itu, atau engkau
segera bergegas dengan segenap kakimu
untuk menolong mereka yang meminta
pertolongan, atau dengan kekuatan lenganmu engkau mengentaskan orang-orang
lemah, itu semua adalah termasuk dari pintu-pintu sedekah darimu untuk dirimu."
(HR. Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hiban)

Wallahu A’lam

Sumber: http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&cat=8&id=8072


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in